CEPOSONLINE.COM, MIMIKA – Di balik etalase Toko Yuri Plastik, Andi tampak masygul. Karyawan toko di pusat perdagangan Mimika ini harus berulang kali memberi penjelasan yang sama kepada pelanggan yang terperanjat melihat label harga. Dalam sekejap, plastik yang biasanya dianggap komoditas receh kini berubah menjadi barang mewah.
"Awalnya naik sekitar 10 persen, lalu seminggu kemudian naik lagi sampai 30 persen. Habis itu, jadilah 70 persen. Bahkan dari harga Rp6.000 sekarang bisa dijual sampai Rp17.000 sampai Rp18.000," ujar Andi saat, Sabtu (11/4/2026).
Lonjakan ini bukan tanpa alasan. Kabar mengenai konflik Amerika-Iran serta insiden kebakaran di pabrik manufaktur utama menjadi pemicu macetnya pasokan. Distribusi dari Surabaya yang selama ini menjadi jantung pasokan Mimika mulai tersendat.
Menurut Andi, plastik jenis kantong atau kresek menjadi yang paling berdarah-darah dengan lonjakan mencapai 70 persen, sementara botol dan cup mengekor di angka 30 hingga 40 persen.
Pemandangan serupa terlihat di Toko Sinar Sulawesi Plastik. Sang pemilik, Hani, menyebut kondisi saat ini jauh lebih ekstrem dari sekadar kenaikan harga biasa. Ia menyaksikan lonjakan hingga 200 persen pada beberapa jenis produk.
"Awal kenaikan sampai 50 persen, 60 persen, sekarang bukan lagi itu, sudah melonjak 200 persen, malah ada beberapa pabrik yang tutup sekarang," ungkap Hani.
Isu kelangkaan bahan baku di pasar global benar-benar memukul stok di daerah. Bagi Hani, persoalannya bukan lagi soal harga mahal, melainkan barang yang memang tidak tersedia.
“Sekarang tidak ada barang di jalan, kita order pun belum tentu ada. Kalau stok habis, ya habis, tidak ada lagi," tambahnya.
Beban kian berat dengan ongkos kirim ekspedisi yang ikut terkerek. Dari yang semula di kisaran Rp25 juta, kini melonjak ke angka Rp28 juta hingga Rp30 juta per pengiriman.
Di pasar tradisional, dampaknya merambat ke transaksi harian. Salman, seorang pedagang pasar, kini harus menerapkan kebijakan hemat plastik. Jika dulu ia royal memberikan kantong tambahan, kini ia harus menghitung setiap lembar yang keluar.
"Sekarang kalau pembeli minta kantong, kadang kita kurangi. Kalau dulu bisa kasih lebih, sekarang harus hemat karena harga mahal," katanya.
Ia mencatat kantong plastik kecil yang dulu seharga Rp15.000 kini sudah menembus angka Rp30.000, tergantung kualitasnya.
*Pandangan Akademisi*
Krisis plastik di Mimika ini merupakan wajah nyata dari cost-push inflation—inflasi yang didorong oleh lonjakan biaya produksi.
Dosen Ekonomi STIE JB Mimika, Tuti Fitriani, menjelaskan bahwa plastik adalah turunan minyak bumi. Maka, setiap gesekan geopolitik di Timur Tengah akan langsung beresonansi hingga ke Timika.
"Kenaikan harga bahan baku plastik yang terjadi saat ini bukan semata persoalan lokal, tetapi bagian dari fenomena ekonomi yang lebih luas," kata Tuti.
Menurut Tuti, Mimika menghadapi tantangan ganda—yaitu ketergantungan pada bahan baku impor dan struktur biaya logistik yang tinggi.
Fenomena ini menciptakan multiplier effect (efek berlipat). Setiap kenaikan harga di pusat industri di Barat Indonesia akan terasa jauh lebih menyakitkan ketika sampai di Timur akibat ongkos distribusi.
"Setiap kenaikan harga di pusat akan mengalami multiplier effect di Mimika karena struktur biaya logistiknya memang tinggi," jelasnya.
Tekanan ini diprediksi tidak akan mereda dalam waktu dekat mengingat belum adanya alternatif kemasan yang efisien. Margin usaha para pelaku UMKM pun kian terjepit.
Jika terus dibiarkan, beban biaya ini akan diteruskan kepada konsumen, yang ujung-ujungnya menggerus daya beli masyarakat secara luas.
"Kondisi ini akan menekan margin usaha, terutama UMKM. Dalam banyak kasus, pelaku usaha akhirnya meneruskan beban biaya itu kepada konsumen," kata Tuti.
Ia pun mendesak pemerintah daerah untuk tidak tinggal diam. Langkah mitigasi seperti subsidi transportasi atau fasilitasi kemasan alternatif non-plastik perlu segera dipertimbangkan.
“Yang harus dilakukan sekarang adalah mengelola dampaknya secara tepat agar tekanan ini tidak berlarut-larut," pungkasnya.
Hingga saat ini, para pedagang dan pelaku UMKM di Mimika hanya bisa berharap badai harga ini segera berlalu sebelum napas usaha mereka benar-benar habis. (*)
Editor : Agung Trihandono