25.7 C
Jayapura
Sunday, October 1, 2023

Kalah Bersaing, Pedagang Cigombong Minta Kebijakan

JAYAPURA – Sejumlah pedagang di Pasar Cikombong Kotaraja  mengeluhkan sepinya pembeli pasca pembatasan aktifitas pasar maupun pertokoan dan pusat perbelanjaan. Saat ini seluruh pedagang dilarang beroperasi di atas pukul 18.00 WIT padahal jam segitulah masyarakat mulai keluar berbelanja. Jika ini terus berlanjut maka para pedagang memastikan akan ada banyak penjual yang gulung tikar. Mereka bisa bernafas apabila ada kebijakan yang dianggap cukup adil.

“Jadi kalau  semua diminta tutup jam 6 sore maka kami yang di pasar kecil ini yang merasa dirugikan. Soalnya orang pasti akan berbelanja di pasar kecil. Nah ketika kami berjualan ternyata sepi pembeli karena memang biasanya jam 6 sore baru masyarakat datang ke pasar ini.

Baca Juga :  Tiba di Biak, Piala Pesparawi Papua Diarak Keliling Kota

Tapi ini justru disuruh tutup jam 6 sorenya,” jelas Bu Wayan yang berjualan perlengkapan dapur saat ditemui di Pasar Cikombong, Selasa (14/4). Ia tak sendiri tetapi ada beberapa pedagang asli Papua lainnya yang juga mengeluhkan hal serupa.

Ibu Tince misalnya yang hanya berjualan sayur, ia menyebut bahwa setelah pembatasan ternyata pembeli jauh merosot. Dari modal Rp 400 ribu ia hanya bisa kembali modal Rp 150 ribu. Artinya ia tekor/rugi Rp 250 ribu. “Kami coba bukan lebih awal ternyata sama saja karena orang lebih banyak membeli di Pasar Youtefa  dan kalau disana tutup baru mereka akan kesini,” jelasnya.

Ia menyebut bahwa  perdagangan bisa sedikit hidup jika Pasar Youtefa  bisa tutup lebih awal. Sama seperti Pasar Hamadi yang tutup pukul 14.00 WIT.

Baca Juga :  Jumlah PKL dan Asongan di Kota Capai  1900 Orang

“Kalau di Youtefa  tutup jam 2 siang itu pasti berubah. Ditempat kami masih ada pembeli, tapi kalau sama-sama ditutup jam 6 artinya kami sudah  kalah lebih dulu,” jelas Tince diiyakan pedagang lainnya, Yulsanti. Mereka berharap ada kebijakan yang lebih adil agar  mereka juga bisa kebagian rejeki. “Dalam sehari kami  kadang bisa mendapatkan Rp 2-3 juta tapi saat ini untuk dapat Rp 500 ribu saja sulit sekali,” imbuh Tince. (ade/wen)

JAYAPURA – Sejumlah pedagang di Pasar Cikombong Kotaraja  mengeluhkan sepinya pembeli pasca pembatasan aktifitas pasar maupun pertokoan dan pusat perbelanjaan. Saat ini seluruh pedagang dilarang beroperasi di atas pukul 18.00 WIT padahal jam segitulah masyarakat mulai keluar berbelanja. Jika ini terus berlanjut maka para pedagang memastikan akan ada banyak penjual yang gulung tikar. Mereka bisa bernafas apabila ada kebijakan yang dianggap cukup adil.

“Jadi kalau  semua diminta tutup jam 6 sore maka kami yang di pasar kecil ini yang merasa dirugikan. Soalnya orang pasti akan berbelanja di pasar kecil. Nah ketika kami berjualan ternyata sepi pembeli karena memang biasanya jam 6 sore baru masyarakat datang ke pasar ini.

Baca Juga :  Pengadilan Adat Harus Didukung Gedung dan Operasional

Tapi ini justru disuruh tutup jam 6 sorenya,” jelas Bu Wayan yang berjualan perlengkapan dapur saat ditemui di Pasar Cikombong, Selasa (14/4). Ia tak sendiri tetapi ada beberapa pedagang asli Papua lainnya yang juga mengeluhkan hal serupa.

Ibu Tince misalnya yang hanya berjualan sayur, ia menyebut bahwa setelah pembatasan ternyata pembeli jauh merosot. Dari modal Rp 400 ribu ia hanya bisa kembali modal Rp 150 ribu. Artinya ia tekor/rugi Rp 250 ribu. “Kami coba bukan lebih awal ternyata sama saja karena orang lebih banyak membeli di Pasar Youtefa  dan kalau disana tutup baru mereka akan kesini,” jelasnya.

Ia menyebut bahwa  perdagangan bisa sedikit hidup jika Pasar Youtefa  bisa tutup lebih awal. Sama seperti Pasar Hamadi yang tutup pukul 14.00 WIT.

Baca Juga :  Waspadai Gelombang III Covid

“Kalau di Youtefa  tutup jam 2 siang itu pasti berubah. Ditempat kami masih ada pembeli, tapi kalau sama-sama ditutup jam 6 artinya kami sudah  kalah lebih dulu,” jelas Tince diiyakan pedagang lainnya, Yulsanti. Mereka berharap ada kebijakan yang lebih adil agar  mereka juga bisa kebagian rejeki. “Dalam sehari kami  kadang bisa mendapatkan Rp 2-3 juta tapi saat ini untuk dapat Rp 500 ribu saja sulit sekali,” imbuh Tince. (ade/wen)

spot_img
spot_img

Artikel Terkait

spot_img
spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img